Syarat menjadi saksi dalam persidangan cukup ketat dan tidak semua orang dapat melakukannya. Semuanya sudah diatur secara rinci dalam Undang-Undang, terutama dalam KUHP.

Dalam setiap persidangan, saksi dibedakan menjadi beberapa jenis. Pertama adalah saksi yang meringankan terdakwa atau a de charge. Keberadaan saksi ini adalah melakukan pembelaan terhadap terdakwa.

Sebab, terdakwa juga berhak dalam mengusahakan dan mengajukan saksi yang memberikan keterangan menguntungkan. Saksi ini bisa dari keluarga atau saksi ahli dan profesional yang sengaja ditunjuk untuk memberikan penjelasan ilmiah.

Dalam Pasal 65 KUHP dan Pasal 116 Ayat 3 KUHP, tertulis jelas bahwa tersangka diperbolehkan menghadirkan saksi menguntungkan. Ada suatu pertanyaan, apakah saksi bisa dijatuhi hukuman.

Maka, jawabannya adalah bisa. Apa lagi pada posisi yang meringankan tersangka. Sebab, sangat berisiko untuk mengeluarkan keterangan palsu. Saksi kedua adalah yang memberatkan tersangka atau a charge.

Saksi a charge akan memberikan keterangan yang memberatkan tersangka. Biasanya, ditunjuk oleh jaksa penuntut umum. Termasuk di dalamnya adalah saksi dari pihak korban yang bisa memberatkan tersangka.

Keterangan yang pertama kali didengar adalah dari korban. Hal ini sesuai dengan yang tertulis pada Pasal 160 ayat (1) KUHP. Jenis saksi ketiga adalah saksi mahkota. Mungkin Anda tidak familiar dengan saksi ini, tapi ada dalam persidangan.

Istilah saksi ini memang tidak ada dalam KUHP, tapi terdapat dalam memori kasasi yang telah diajukan oleh kejaksaan. Yang dimaksud dengan saksi mahkota adalah saksi dari terdakwa atau tersangka lain.

Biasanya, saksi mahkota akan diberi imbalan berupa pengurangan tuntutan atau kekebalan hukum pada perkara tertentu. Simak syarat menjadi saksi di bawah ini.

Syarat Menjadi Saksi Dalam Persidangan, Formil dan Materil

Syarat menjadi saksi dibagi menjadi syarat formil, syarat materil, syarat umum dan syarat khusus. Oleh sebab itu, tidak mudah menjadi saksi dalam sebuah persidangan.

Jika ada saksi tidak hadir dalam persidangan, maka pihak berwenang akan memberikan konsekuensinya. Hal ini dapat dilihat pada pasal 224 KUHP dan Pasal 224 KUHP.

Persyaratan formal untuk menjadi saksi di antaranya adalah berusia 15 tahun ke atas. Kemudian, memiliki akal yang sehat agar keterangannya dapat dipertanggungjawabkan dan tidak memiliki hubungan sedarah atau semenda.

Selain itu, saksi juga tidak boleh memiliki hubungan pernikahan dengan salah satu pihak meski sudah bercerai. Seorang saksi juga tidak boleh memiliki hubungan kerja atau menerima upah dari salah satu pihak, kecuali ada kebijakan lain.

Seorang saksi juga harus menghadiri persidangan dan mau untuk diambil sumpahnya. Jika saksi menjawab lupa di persidangan, maka hakim harus memutuskan melanjutkan kesaksian atau menundanya.

Paling tidak, ada 2 orang yang dipanggil untuk memberikan kesaksian di ruang sidang secara lisan. Kesaksian tersebut, nantinya akan diperkuat dengan bukti lainnya.

Persyaratan materil adalah saksi harus mampu menjelaskan perkara yang dilihat dan dialami sendiri. Saksi juga akan dimintai keterangan mengenai sebab perkara tersebut dan bukan berdasarkan pendapat pribadinya.

Keterangan tersebut juga harus bersesuaian dengan keterangan dari saksi lainnya. Tentunya, keterangan yang disampaikan tidak boleh bertentangan dengan akal sehat.

Syarat Umum dan Khususnya

Persyaratan umum untuk menjadi saksi adalah sehat secara jasmani dan rohani, serta mampu menolak kesaksian dikarenakan adanya hubungan saudara hingga derajat ketiga. Misalnya karena perkawinan, atau hubungan darah.

Bahkan, hubungan keluarga ini juga dapat terbentuk karena kondisi tertentu. Kemudian ada pula pertanyaan, bagaimana jika diancam untuk menjadi saksi padahal Anda tidak memenuhi syarat. Maka, Anda bisa melaporkannya kepada polisi.

Sedangkan untuk persyaratan khususnya adalah saksi merupakan orang yang bersedia memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan. Sebagai saksi, Anda boleh meminta penyidik untuk datang ke tempat kediamannya.

Sebab, dalam suatu perkara bisa menyebabkan Anda merasa terancam jika datang langsung ke kantor penyidik. Dalam proses pemeriksaan, saksi tidak perlu disumpah. Kecuali jika Anda memutuskan untuk datang ke persidangan.

Dalam keadaan umum, saksi biasanya diperiksa sendiri. Kecuali apabila terdapat kondisi khusus yang membuat saksi harus diperiksa bersamaan dengan tersangka, korban, atau saksi lainnya.

Pihak berwenang, tidak boleh memilih saksi secara sembarangan. Apa lagi jika sudah masuk ke dalam tahap pengadilan, maka syarat menjadi saksi dalam pengadilan harus lebih valid lagi.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.