Salah satu hal penting ketika memutuskan untuk bercerai adalah hak nafkah istri yang perlu diketahui khususnya oleh mantan suami. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai nafkah istri setelah bercerai.

Apa Itu Nafkah Istri?

Ketika terjadi perceraian, setidaknya istri akan mendapatkan beberapa hak dari mantan suami. Beberapa hak tersebut adalah nafkah terutang, nafkah anak dan nafkah iddah.

Mengapa Wajib Memberikan Nafkah?

Mengenai pengaturan nafkah yang ada dalam Kompilasi Hukum Islam atau KHI dalam Pasal 80 ayat (2) dan ayat (4) Kompilasi Hukum Islam, menyatakan bahwa suami wajib untuk melindungi istrinya dan memberikan segala kebutuhan yang diperlukan untuk hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.

Sesuai dengan penghasilan yang didapatkannya, suami akan menanggung:

  • Nafkah, kiswah dan tempat kediaman untuk istri
  • Biaya rumah tangga, biaya pengobatan, dan biaya perawatan untuk anak dan istri.
  • Nafkah atau biaya pendidikan anak.

3 Macam Nafkah Istri

1. Nafkah keluarga

Sebagai kepala keluarga, suami wajib untuk memberikan semua kebutuhan hidup sehari-hari istri dan anak. Seperti tempat tinggal, pakaian, pendidikan, obat-obatan, makanan dan lainnya.

2. Nafkah batin

Nafkah tidak selalu dalam bentuk uang atau materi. Istri juga berhak mendapatkan nafkah batin dari suami. Dalam hubungan rumah tangga, ketenangan jiwa menjadi hal yang penting. Ketenangan tersebut tidak hanya dalam bentuk hubungan intim suami istri saja namun juga sikap suami pada istri. Seperti tidak egois, menjaga komunikasi dengan baik, tidak kasar dan lainnya.

3. Nafkah barang pribadi

Suami juga tidak boleh melupakan nafkah untuk kebutuhan pribadi istri. Uang bulanan yang biasanya diberikan pada istri untuk kebutuhan hidup sehari-hari akan berbeda dengan nafkah pribadi.

Nafkah pribadi tersebut lebih diperuntukkan untuk kebutuhan pribadi istri. Bahkan walaupun istri memiliki penghasilan sendiri. Jika berdasarkan pendapat ulama, penghasilan istri adalah hak istri. Suami tidak berhak untuk hal tersebut kecuali istri sendiri yang menghendakinya.

Kategori Pembagian Nafkah Istri Setelah Perceraian

Setidaknya ada beberapa jenis nafkah istri yang wajib dipenuhi oleh suami ketika sudah bercerai, yaitu:

1. Nafkah madhiyah

Pertama adalah nafkah madhiyah atau nafkah masa lampau. Nafkah ini merupakan nafkah terdahulu yang dilalaikan atau sengaja tidak diberikan oleh mantan suami pada mantan istri ketika keduanya masih terikat dengan pernikahan atau sebelum bercerai. Dalam hal ini, istri berhak untuk mengajukan tuntutan nafkah madhiyah ketika proses persidangan.

2. Nafkah iddah

Nafkah iddah merupakan nafkah istri yang wajib diberikan oleh mantan suaminya ketika terjadi perceraian karena talak. Talak berarti yang mengajukan gugatan cerai adalah dari pihak suami pada istrinya ke pengadilan agama.

Nafkah ini diberikan selama jangka waktu 3 bulan 10 hari dan mulai diberikan ketika mantan suami melakukan ikrar talak di depan majelis hakim. Kemudian untuk jumlah banyaknya nafkah yang diberikan akan ditentukan oleh hakim yang mana disesuaikan juga dengan kemampuan mantan suami.

3. Nafkah mut’ah

Nafkah mut’ah atau nafkah penghibur merupakan pemberian nafkah istri dari mantan suami yang menjatuhkan talak baik dalam bentuk uang ataupun benda. Nafkah ini wajib diberikan ketika perkawinan putus karena talak dari suami.

4. Nafkah anak

Jika setelah perceraian, ada anak yang berusia dibawah 21 tahun sedangkan yang memegang hak asuh anak adalah mantan istri, maka mantan suami wajib untuk memberikan nafkah anak pada mantan istri.

Besaran jumlah nafkah yang diberikan biasanya adalah ⅓ dari jumlah penghasilan suami ketika proses perceraian. Namun hakim juga bisa menentukan lebih dari jumlah tersebut tergantung dokumen bukti mengenai penghasilan yang ditunjukkan oleh istri ketika proses perceraian.

Tuntutan Nafkah Iddah dan Nafkah Mut’ah

Nafkah iddah dan nafkah mut’ah yang menjadi nafkah istri yang mana wajib diberikan pada istri ketika terjadi cerai talak. Dalam hal ini berarti nafkah tersebut diberikan ketika istri digugat cerai oleh suami. Lalu bagaimana dengan jika istri yang menggugat cerai suami atau melakukan cerai gugat?

Jika berdasarkan hukum di Indonesia sendiri, KHI tidak menegaskan hak istri setelah menggugat cerai suami secara eksplisit. Namun Pasal 152 KHI menegaskan, “Bekas isteri berhak mendapatkan nafkah iddah dari bekas suaminya kecuali ia nusyuz.”

Artinya tidak dijelaskan siapa yang mengajukan cerai terlebih dahulu, istri tetap berhak atas nafkah iddah. Anda tetap dapat mengajukan tuntutan hak nafkah dalam gugatan perceraian, nantinya hakim yang akan memutuskan.

Bagaimana Jika Suami Tidak Bertanggung Jawab Atas Nafkah Istri Setelah Cerai?

Jika seseorang tidak mematuhi putusan pengadilan maka terkait hal ini Pasal 196 HIR menyebutkan bahwa:

“Jika pihak yang dikalahkan tidak mau atau lalai untuk memenuhi isi keputusan itu dengan damai, maka pihak yang menang memasukkan permintaan, baik dengan lisan, maupun dengan surat, kepada ketua pengadilan negeri yang tersebut pada ayat pertama Pasal 195, untuk menjalankan keputusan itu Ketua menyuruh memanggil pihak yang dikalahkan itu serta memperingatkan agar ia mematuhi keputusan itu di dalam tempo yang ditentukan oleh ketua, yang selama-lamanya delapan hari.”

Jadi berdasarkan hal tersebut, Anda bisa mengajukan permintaan kepada Ketua Pengadilan Negeri/ Ketua Pengadilan Agama tergantung hukum apa yang Anda gunakan saat bercerai, jika secara Islam dapat diajukan melalui Pengadilan Agama, dan selain Islam dapat diajukan melalui Pengadilan Negeri.

Hal tersebut agar Ketua Pengadilan Negeri atau Ketua Pengadilan Agama memanggil dan memperingatkan mantan suami agar memenuhi nafkah sesuai Putusan Perceraian paling lambat 8 (delapan) hari setelah diberi dipanggil atau diperingatkan.

Selanjutnya Pasal 197 HIR alinea ke-1 menyebutkan :

“Jika sudah lewat tempo yang ditentukan itu, dan yang dikalahkan belum juga memenuhi keputusan itu, atau ia jika dipanggil dengan patut, tidak datang menghadap, maka ketua oleh karena jabatannya memberi perintah dengan surat, supaya disita sekalian banyak barang-barang yang tidak tetap dan jika tidak ada, atau ternyata tidak cukup sekian banyak barang tetap kepunyaan orang yang dikalahkan itu sampai dirasa cukup akan pengganti jumlah uang yang tersebut di dalam keputusan itu dan ditambah pula dengan semua biaya untuk menjalankan keputusan itu.”

Penyitaan akan dijalankan oleh panitera pengadilan negeri.

Berapa Bulan Suami Tidak Menafkahi Istri Jatuh Talak?

Perintah untuk memberikan nafkah bagi istri sudah jelas ada dalam Al-Quran. Akan tetapi bagaimana jika suami memiliki masalah sehingga tidak mampu memberikan nafkah? Adakah batas waktunya?

Suami yang tidak memberikan nafkah tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan perceraian. Akan tetapi dalam praktiknya, suami yang tidak memberikan nafkah batin atau finansial pada istri bisa menyebabkan hubungan suami istri yang kurang harmonis dan bisa saja terjadi pertengkaran yang dalam hal ini bisa dijadikan alasan terjadinya perceraian.

Manakah yang Harus Didahulukan Antara Nafkah Istri dan Ibu?

Seorang istri berhak untuk mendapatkan nafkah dan juga sudah menjadi kewajiban suami untuk memberikan nafkah pada istri. Akan tetapi ibu suami merupakan bagian dari keluarga sehingga akan lebih baik jika suami istri bermusyawarah untuk memberikan hartanya pada ibu.

Berapa Persen Gaji Suami Untuk Nafkah Istri?

Sebenarnya tidak ada aturan yang jelas mengatur mengenai pembagian persen gaji suami untuk nafkah istri. Besaran tersebut akan ditentukan berdasarkan kesepakatan masing-masing sesuai dengan banyaknya kebutuhan rumah tangga.

Kemudian bagaimana dengan pemberian nafkah iddah yang wajib diberikan oleh suami pada istri yang melakukan cerai talak? Nafkah iddah memang menjadi hal wajib diberikan pada istri jika suami yang melakukan cerai talak selama waktu 3 bulan 10 hari.

Besaran nafkah iddah yang harus diberikan akan ditentukan oleh hakim pengadilan agama ketika proses perceraian, yang mana ditentukan berdasarkan beberapa hal. Seperti penghasilan suami, tuntutan dari istri, kesanggupan dari suami, lamanya usia perkawinan, ketaatan istri dalam perkawinan, pembuktian dari istri dan atas dasar kepatutan serta kelayakan.

Contoh Surat Perjanjian Tuntutan Nafkah Istri Docs & PDF

**SURAT PERJANJIAN **

Yang Bertanda Tangan Di Bawah Ini:
Nama :
Tempat Tanggal Lahir :
Alamat :

Menyatakan dan berjanji dengan sebenar-benarnya bahwa saya bersedia menanggung biaya hidup Istri sah saya yang atas nama :

[], yang lahir pada tanggal [] di [______].

Bahwa nama istri yang telah tersebut di atas adalah istri dari hasil perkawinan saya. Adapun biaya tanggungan untuk istri saya adalah sebesar [_______rupiah] per bulan dan menanggung semua biaya kesehatan dan kebutuhan istri saya.

Yang mulai berlaku pada bulan [] tahun [] sampai bulan seterusnya. Apabila Peryataan Perjanjian saya ini tidak dilaksanakan, maka saya bersedia dituntut secara kekeluargaan atau secara Hukum dari pihak berwajib atas kelalaian tanggung jawab saya tersebut.

Demikian Pernyataan Perjanjian ini saya buat. Pernyataan Perjanjian ini dibuat dengan rasa penuh kesadaran tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun.

[Tempat, tanggal dibuatnya perjanjian]

Materai

Yang Menyatakan
[Nama]

Saksi-saksi:
*
*
*

Download PDF Download DOC

Contoh Surat Perjanjian Tuntutan Nafkah Anak

SURAT PERJANJIAN

Yang Bertanda Tangan Di Bawah Ini:
Nama :
Tempat Tanggal Lahir :
Alamat :

Menyatakan dan berjanji dengan sebenar-benarnya bahwa saya bersedia menanggung biaya hidup anak kandung saya yang atas nama :

[], yang lahir pada tanggal [] di [] dan;
[], yang lahir pada tanggal [
] di [
____].

Bahwa nama - nama anak yang telah tersebut di atas adalah anak dari hasil perkawinan saya dengan mantan istri saya yang atas nama [_________] yang diasuh oleh Ibu kandungnya sendiri. Adapun biaya tanggungan untuk anak kandung saya adalah sebesar [_______rupiah] per bulan dan menanggung semua biaya kesehatan dan pendidikan anak kandung saya sampai mereka menikah.

Yang mulai berlaku pada bulan [] tahun [] sampai bulan seterusnya. Apabila Peryataan Perjanjian saya ini tidak dilaksanakan, maka saya bersedia dituntut secara kekeluargaan atau secara Hukum dari pihak berwajib atas kelalaian tanggung jawab saya tersebut.

Demikian Pernyataan Perjanjian ini saya buat. Pernyataan Perjanjian ini dibuat dengan rasa penuh kesadaran tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun.

[Tempat, tanggal dibuatnya perjanjian]

Materai

Yang Menyatakan
[Nama]

Saksi-saksi:
*
*
*

Download PDF Download DOC

Konsultasikan Permasalahan Cerai Pada Justika

Untuk beberapa orang, cerai adalah solusi untuk permasalahan rumah tangga yang sudah tidak bisa dipertahankan. Namun terkadang dalam proses cerai juga bisa timbul beberapa masalah atau kebingungan yang lainnya. Untuk itu, Justika memiliki solusi untuk masalah atau kebingungan Anda terkait perceraian melalui laman ini.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.