Banyak orang bertanya-tanya, siapa yang bisa menjadi saksi dalam perceraian? Maka kami akan jelaskan pada ulasan ini. Yang harus Anda tahu, pernyataan saksi dalam perceraian memang tidak selalu dibutuhkan. 

Meski begitu, hampir sebagian besar sidang perceraian menggunakan pernyataan saksi sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan. Adapun kasus-kasus yang urgent dan membutuhkan saksi. 

Seperti gugatan karena KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), perselingkuhan hingga tidak adanya nafkah yang diberikan oleh suami. Melihat hal ini, pengadilan akan memanggil beberapa saksi sebagai prosedurnya. 

Namun harus sesuai dengan aturan hukum saksi keluarga dan terkait. Sayangnya tidak semua orang dapat bersaksi di persidangan, Undang-Undang perceraian pun sudah mengatur dengan jelas terkait hal ini. 

Karenanya, selalu patuh peraturan yang ada bila ingin memanggil saksi di persidangan. Jadi, siapa yang bisa menjadi saksi dalam perceraian dan berhak memberikan informasi? lalu untuk apa mereka dihadirkan? Mari simak ulasannya dibawah ini!

Alasan Mengapa Dibutuhkan Sidang Perceraian?

Gugatan perceraian memang boleh dilakukan oleh istri ataupun suami, namun harus melalui aturan yang ada. Berikut beberapa alasan mengapa sidang perceraian dibutuhkan dalam gugatan perceraian:

1. Gugatan seorang istri karena suaminya tidak memberikan nafkah

2. Suami meninggalkan istri selama 2 tahun berturut-turut tanpa adanya keterangan ataupun izin kepada istri

3. Suami melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) kepada istri

4. Terjadi perselisihan berkepanjangan tanpa adanya tanda-tanda kerukunan di masa depan

5. Suami melakukan tindakan buruk yang sulit disembuhkan seperti berselingkuh, melakukan judi, pemabuk, pemadat dan sejenisnya

6. Suami sedang melakukan hukuman penjara minimal 5 tahun atau lebih berat pasca perkawinan

7. Suami sakit, cacat dan sejenisnya sehingga tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai suami

Beberapa alasan diatas diperbolehkan untuk menggugat suami atau justru sebaliknya, karena pihak penggugat tidak hanya istri, namun juga suami. 

Siapa yang Bisa Menjadi Saksi Dalam Perceraian?

Ketika seseorang ditunjuk sebagai saksi dalam sidang perceraian, tentu tidak sekedar datang namun ada juga persyaratan yang harus dipenuhi. Diantaranya harus sehat secara mental dan berani bersumpah sesuai prosedur yang ada. 

Sudah jelas bukan, dalam undang-undang hanya ada beberapa orang yang diperbolehkan menjadi saksi dan memberikan informasi. Ini tercantum jelas pada Undang-Undang HIR Pasal 145 ayat 1 dan 2 terkait saksi-saksi yang diizinkan dalam sidang perceraian. 

  1. Keluarga Dekat

Saksi pertama yang tidak diperboleh hadir dalam sidang perceraian adalah keluarga dekat, yaitu keluarga sedarah dan keluar dari salah satu pihak dilihat dari garis keturunan yang lurus. 

Mengapa demikian? Karena takutnya akan mempengaruhi proses kesaksian hingga tidak transparan. Itu artinya, siapa yang dapat menjadi saksi di sidang perceraian adalah orang lain, kecuali keluarga dekat. 

Namun di UU HIR Pasal 145 ayat 2 terdapat pengecualian. Ketika dalam sebuah sidang perceraian kasusnya adalah seputar perselisihan keturunan, perkawinan atau perceraian. 

Maka boleh menghadirkan keluarga untuk menemukan manfaat saksi dalam sidang perceraian. Ini karena biasanya pihak internal mengetahui keadaan rumah tangga jauh lebih detail daripada pihak eksternal. 

  1. Anak

Selanjutnya bolehkan anak kandung menjadi saksi perceraian? Jawabannya adalah boleh, namun yang berusia 15 tahun keatas. Tentu hal ini ada alasannya, karena anak-anak dibawah usia itu, cenderung belum bisa memberikan kesaksian secara transparan. 

Pada usia 15 tahun kebawah, biasanya anak belum memiliki pendapat sendiri, justru dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya. Melihat hal ini, mereka yang berusia di kelompok itu dilarang menjadi saksi, kecuali untuk masalah perwalian anak. 

  1. Tetangga

Siapa yang dapat menjadi saksi di sidang perceraian selanjutnya adalah tetangga bahkan pejabat RT, khususnya untuk permasalah sengketa. Mengapa? Karena kesaksian orang terdekat dengan lokasi dinilai penting untuk memperjelas perkara yang ada. 

Sudah hal pasti jika tetangga menjadi orang terdekat karena biasanya mengetahui sedikit duduk perkara dalam sebuah rumah tangga. Baik itu yang didengar, dilihat atau bahkan dialami. 

Itulah sebabnya pengadilan dapat memanggil paksa apabila tetangga atau pejabat RT tidak mau memberi keterangan dan bekerja sama. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, kehadiran saksi memang bersifat opsional. 

Namun sebagian besar kasus persidangan membutuhkannya. Apalagi jika kasus perceraian dilatarbelakangi oleh hal yang kurang menyenangkan dari kedua belah pihak. Terlepas dari hal itu, ada poin penting yang harus dilakukan dalam sidang perceraian.

Yaitu mempersiapkan bukti dan saksi agar gugatan berjalan lancar. Siapa yang bisa menjadi saksi dalam perceraian harus memberikan keterangan sejujur-jujurnya dan bersifat transparan, karena nantinya akan membantu pengambilan keputusan.

Gunakan Layanan Justika Untuk Mendapat Saran Hukum

Perceraian memang permasalahan yang sangat rumit, tidak semua orang atau pasangan mampu menyelesaikan perceraian seorang diri. Dengan demikian, bantuan dan saran hukum sangat diperlukan agar permasalah perceraian terselesaikan dengan semestinya. 

Justika bersama Advokat dan Pengacara Andal profesional, akan membantu Anda menangani kasus perceraian. Anda akan mendapatkan saran hukum langsung dari pengacara pilihan yang berpengalaman dalam bidang perceraian, melalui Layanan Perceraian Pengacara profesional Justika akan membantu Anda terkait semua permasalahan tentang perceraian Anda. 

Konsultasi via Chat

Kini, konsultasi chat dengan advokat berpengalaman hanya mulai dari Rp 30.000 saja. Dengan harga tersebut Anda sudah bisa mendapatkan solusi permasalahan hukum Anda dengan cara menceritakan permasalahan yang dihadapi melalui kolom chat. Nantinya sistem akan mencari advokat guna membantu menyelesaikan permasalahan Anda.

Layanan Konsultasi via Telepon

Untuk permasalahan yang membutuhkan solusi lebih lanjut, Anda bisa memanfaatkan layanan konsultasi telepon mulai dari Rp 350.000 selama 30 menit atau Rp 560.000 selama 60 menit.

Layanan Konsultasi Tatap Muka

Konsultasi tatap muka bisa dilakukan ketika Anda benar-benar membutuhkan saran secara langsung dari advokat terpercaya untuk kasus yang lebih rumit. Hanya dengan Rp 2.200.000 saja, Anda sudah bisa bertemu secara langsung selama 2 jam untuk bertanya lebih dalam hingga menunjukkan dokumen-dokumen yang relevan untuk membantu permasalahan Anda.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.