Seperti yang kita tahu, manfaat saksi dalam sidang perceraian memang dibutuhkan, khususnya untuk pembuktian. Namun ketika menjadi saksi, harus melalui prosedur dan tata cara hukum yang benar.

Apalagi permasalahan ini tidak hanya menyangkut hukum formal, namun juga materiil. Dimana nantinya saksi yang datang akan disumpah terlebih dahulu sebelum memberikan keterangan.

Ini perlu dilakukan karena keterangan saksi yang transparan akan sangat mempengaruhi jalannya pembuktian perkara dan pengambilan keputusan. Tentu saja, manfaat saksi di sidang perceraian yang pertama adalah sebagai alat bukti.

Manfaat Saksi Dalam Sidang Perceraian yang Harus Dipahami

Pembuktian dalam perkara perdata, termasuk perceraian adalah upaya untuk mendapatkan kebenaran secara formil. Kebenaran ini didasarkan pada formalitas hukum sehingga akta otentik memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat.

Adapun maksud dari sempurna adalah hakim tidak membutuhkan bukti lainnya karena sudah mendapatkan bukti yang otentik. Sedangkan mengingat yaitu hakim sudah terikat dengan bukti otentik tersebut, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya.

Hal ini dapat dilihat, manfaat saksi dalam sidang perceraian tentunya untuk memenangkan duduk perkara dan mendapatkan hak-hak yang ada. Kemenangan perkara ini membuktikan semua hal yang terkait harus dilakukan semaksimal mungkin agar pihak-pihak yang berkepentingan merasa terlindungi.

Alur dan Proses Dalam Sidang Perceraian

Untuk mengajukan gugatan perceraian, Anda harus melampirkan beberapa dokumen penting seperti Buku Nikah dari KUA, Akta lahir anak (bila sudah memiliki anak), KTP penggugat, kartu keluarga, bukti harta bersama dan bukti alasan perceraian lainnya.

Lalu siapa yang bisa menjadi saksi dalam perceraian untuk memberi keterangan terkait perselisihan antara penggugat dan tergugat guna bisa memberikan manfaat saksi dalam sidang perceraian, khususnya bila itu karena alasan KDRT. Adapun alur prosedur yang harus dijalani adalah sebagai berikut:

Pendaftaran Gugatan Cerai

Proses pertama dalam perceraian adalah mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama dimana Anda melangsungkan pernikahan. Pendaftaran ini harus disertai dengan bukti dan dokumen pendukung sebagaimana ketentuan yang berlaku.

Nantinya pendaftaran tersebut akan diproses melalui Pengadilan Agama, jika diterima akan langsung dimasukkan dalam sidang mediasi. Namun jika ditolak, mungkin ada beberapa alasan yang kurang jelas atau sekedar persyaratan yang belum terpenuhi.

Berangkat dari hal ini, tentu Anda harus melengkapi berkas yang ada, menguatkan alasan dan bukti yang ada salah satunya adalah dengan memaksimalkan manfaat saksi dalam sidang perceraian. Lalu bolehkan anak kandung menjadi saksi perceraian? Tentu saja boleh namun dengan situasi dan kondisi tertentu. Dengan begitu, pendaftaran akan diproses ke prosedur selanjutnya yakni persiapan dalam sidang perceraian.

Persidangan Mediasi

Setelah proses pendaftaran selesai dan tanggal persidangan sudah ditetapkan, maka penggugat dan tergugat akan masuk ke tahapan mediasi. Dibagian ini, Pengadilan Agama akan menjadi penengah dan mengupayakan kedua belah pihak untuk rujuk kembali.

Jangan salah, banyak rumah tangga yang terbantu karena tahap ini. Hal ini terjadi karena adanya bantuan pihak ketiga sebagai penengah konflik yang menjadi salah satu manfaat saksi dalam sidang perceraian yang ada. Sayangnya tidak sedikit juga yang mangkir dari persidangan mediasi.

Umumnya sidang mediasi akan dilakukan sebanyak 2 kali untuk mengupayakan perdamaian dan akhirnya rujuk kembali. Jika upaya damai tidak berhasil, mau tidak mau masuk ke proses selanjutnya yaitu pembacaan gugatan.

Proses Sidang Perceraian

Proses ini dimulai dengan pembacaan gugatan dari penggugat, kemudian dilanjutkan dengan jawaban tergugat. Namun biasanya kedua proses ini akan berlangsung dalam sidang yang berbeda.

Selesai pembacaan gugatan dan memperoleh jawaban tergugat, tahapan selanjutnya adalah pembacaan replik dari penggugat dan duplik dari tergugat. Lalu masuk di proses berikutnya yakni pembuktian dari penggugat dan tergugat.

Jika semua tahapan diatas sudah dilakukan termasuk menghadirkan serta memaksimalkan manfaat saksi dalam sidang perceraian, nantinya akan diambil kesimpulan dari kedua belah pihak dan ditutup oleh putusan hakim. Jika putusan sudah resmi keluar, pasangan suami istri tersebut sah berpisah dan berhak menjalani kehidupan masing-masing.

Terlepas dari hal ini, ada beberapa pertanyaan yang masuk seperti meskipun mereka resmi bercerai apakah boleh dirujuk kembali? Maka jawabannya bisa saja, khususnya dalam agama islam ada aturan talak/cerai yang dapat dirujuk dua kali.

Namun daripada menyusahkan diri untuk alur dan prosedur rujukan kembali, jauh lebih baik dipikirkan kembali sebelum Anda benar-benar mendaftarkan perceraian dan menerapkan aturan hukum saksi keluarga yang ada.

Jika perihal ini masih bisa dibicarakan dan ditemukan solusinya, tidak perlu sampai melibatkan pengadilan. Namun jika masalah ini tidak dapat tertolong lagi, penting untuk kedua belah pihak menyelesaikan perkara yang ada di pengadilan.

Nantinya jika sudah masuk pengadilan, selalu ikuti alur dan prosedur yang ada, termasuk membawa saksi agar dapat merasakan manfaat saksi dalam sidang perceraian. Dengan begitu, hakim pengadilan juga dapat memberikan keputusan yang bijaksana.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.