Banyak orang yang bertanya-tanya, bolehkan anak kandung menjadi saksi perceraian di pengadilan? Apalagi kehadiran saksi dinilai penting karena akan menjadi pertimbangan untuk mengambil keputusan. 

Siapa yang bisa menjadi saksi dalam perceraian adalah orang yang mengetahui secara langsung duduk perkaranya, baik itu yang ia lihat, dengar atau alami sendiri dari rumah tangga penggugat dan tergugat. 

Pertanyaan yang diajukan Kepada Saksi Perceraian

Adapun pertanyaan yang kerap diajukan misalnya hubungan apa yang dijalin saksi dengan pihak penggugat atau tergugat dari pasangan suami istri tersebut. Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah antara penggugat dan tergugat memiliki anak dan bagaimana kondisinya. 

Keberadaannya sampai apakah pihak suami atau pihak istri telah pisah ranjang dan tidak tinggal dengan anak-anaknya tersebut. Terlepas dari hal itu, saksi perceraian harus mengetahui duduk perkara perselisihan yang terjadi antara penggugat dan tergugat. 

Apa yang menyebabkan mereka bertengkar, pisah ranjang dan sebab-sebab lainnya yang memicu gugatan cerai. Itu artinya, saksi harus mengetahui secara detail peristiwa yang dialami penggugat dan tergugat dalam sidang perceraian. 

Biasanya saksi dalam kasus perceraian adalah kerabat terdekat atau keluarga. Lalu bolehkan anak kandung menjadi saksi perceraian selain mereka? Tentu saja boleh namun ada syaratnya. 

Selain kerabat dan keluarga terdekat, saksi juga dapat dihadirkan dari tetangga, rekan kerja, teman dan orang lain, namun harus benar-benar mengetahui perselisihan yang terjadi. Nantinya saksi yang dihadirkan akan dilakukan bawah sumpah sumpah. 

Yang bertujuan sebagai fakta hukum dan untuk membuktikan gugat dari penggugat bahwa terjadi perselisihan. Dari sini bisa kita lihat bahwa manfaat saksi dalam sidang perceraian memang sebagai bukti dan pertimbangan untuk mengambil keputusan. 

Dan dari perselisihan yang terjadi tidak ditemukannya solusi sehingga tidak ada harapan untuk rukun kembali di dalam rumah tangganya. Keterangan ini sebagaimana tercantum dari amanat Pasal 1 UU No.1 th 1974 mengenai perkawinan.

Bolehkan Anak Kandung Menjadi Saksi Perceraian?

Seperti pada pembahasan sebelumnya, saksi merupakan alat bukti yang akan memberikan keterangan sebagai pembuktian dalam suatu perkara di persidangan. Dalam aturan hukum saksi keluarga, termasuk perceraian, ada sejumlah orang yang dilarang memberikan keterangan sebagai saksi. 

Hal ini tercantum pada Pasal 145 Herzien Inlandsch Reglement (HIR), Pasal 1910 Kitab Undang-Undang Perdata (KUH Perdata) dan Pasal 172 Rechtreglement Voor de Buitengewesten (RBg) yang berbunyi:

Pasal 145 HIR, adalah sebagai saksi yang tidak dapat didengar:

1. Anak-anak yang tidak diketahui apakah umurnya sudah cukup 15 tahun

2. Orang gila meskipun terkadang mereka dapat berpikir dengan benar

3. Keluarga sedarah dan semenda dilihat dari salah satu pihak dengan keturunan yang lurus

4. Istri atau suami dari salah satu pihak, meskipun mereka sudah bercerai

Pasal 1910 KUH Perdata:

Anggota keluarga yang sedarah dan semenda dilihat dari salah satu pihak dengan keturunan yang lurus, orang gila yang dianggap tidak cakap untuk bersaksi, begitu juga dengan suami atau istri meskipun mereka sudah bercerai. 

Lalu bolehkan anak kandung menjadi saksi perceraian? Hal ini dapat dilakukan oleh anggota keluarga sedarah dan semenda untuk memberikan keterangan di pengadilan bila:

1. Dalam permasalah seputar kedudukan perdata dari salah satu pihak

2. Dalam permasalahan seputar alasan yang menyebabkan pembebasan dan pemecatan dari kekuasaan orang tua atau perwalian

3. Perihal nafkah yang harus diberikan menurut buku kesatu, termasuk biaya pendidikan dan pemeliharaan anak yang belum dewasa

4. Dalam perkara perjanjian kerja. Namun mereka yang disebutkan dalam Pasal 1909 nomor 1 dan 2 tidak berhak untuk minta dibebaskan dan keharusannya memberikan saksi.

Pasal 172 RBg, adalah sebagai saksi yang tidak dapat didengar:

1. Yang memiliki hubungan kekeluargaan sedarah dan semenda secara garis lurus atau karena perkawinan dengan salah satu pihak

2. Suami atau istri meskipun mereka sudah bercerai

3. Orang gila, meskipun terkadang pikirannya dapat berfungsi dengan baik

4. Saudara laki-laki dan perempuan dari ibu dan anak-anak dari saudara perempuan di daerah Sumatera Barat, Bengkulu dan Tapanuli namun dengan ketentuan-ketentuan Melayu

5. Anak-anak yang belum berusia 15 tahun keatas

Sehingga orang-orang yang disebutkan diatas tidak dapat bersaksi dan memberikan keterangan, kecuali pada kondisi tertentu. Selain itu, para saksi juga harus menyertakan beberapa dokumen khususnya kartu identitas seperti KTP/SIM kepada pengadilan. 

Kemudian saksi perceraian harus memberikan keterangan transparan di persidangan, namun sebelumnya harus disumpah terlebih dahulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Jadi bolehkan anak kandung menjadi saksi perceraian? Jawabannya boleh namun dengan kondisi tertentu. 


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.