Hukum suami KDRT terhadap istri bisa menjadi sarana pencegahan untuk mengurangi kejadian yang tidak diinginkan. Namun, tetap masih banyak suami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga hingga akhirnya berujung pada jeruji besi.

Sebenarnya ada beragam faktor yang mendasari tindakan kekerasan dalam rumah tangga ini. Dua faktor yang paling banyak memicu kekerasan terhadap pasangan adalah ekonomi, frustasi, emosi dan cemburu.

Bentuk KDRT juga bermacam-macam. Bisa dalam bentuk fisik seperti pemukulan dan juga psikis. Bahkan sudah ada pasal KDRT pemukulan yang mengaturnya, sehingga Anda bisa membantu melaporkan jika melihat atau mengalami kejadian tersebut.

Hukum Suami KDRT Terhadap Istri Beserta Ancamannya yang Penting Dipahami

Hukum suami melakukan KDRT terhadap istri tentu saja tidak diperbolehkan, baik itu menurut negara maupun agama. Bahkan sudah ada aturan hukum yang mengatur beserta ancamannya. Apalagi jika Anda sebagai istri dipukul oleh suami hingga berkali-kali.

Jangan pernah takut untuk melaporkan, karena hak istri yang dipukul suami akan mendapatkan perlindungan hukum. Setiap tindakan kejahatan, mempunyai ancaman hukuman berbeda-beda, tergantung dari seberapa berat kategorinya.

Jika melakukan kekerasan kategori ringan, istri tidak terluka dan masih bisa melakukan aktivitasnya dengan baik, maka ancaman hukumnya membayar denda sejumlah 5 juta rupiah atau penjara dalam kurun waktu 4 bulan.

Hukum suami KDRT terhadap istri sudah diatur sendiri. Ancaman penjara selama 5 tahun atau membayar denda sejumlah 15 juta diberikan kepada suami yang melakukan tindakan kekerasan fisik, dan membuat pasangannya mendapatkan luka. 

Sedangkan untuk kekerasan kategori berat bahkan sampai korban kehilangan nyawa, suami bisa mendapatkan ancaman hukuman penjara selama kurun waktu 15 tahun. Atau membayarkan denda sejumlah 45 juta rupiah.

Bentuk Tindakan KDRT Tidak Hanya Fisik Saja

Bentuk tindakan suami melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap istri tidak hanya fisik saja. Setiap bentuk kekerasan ini tentu saja memiliki konsekuensi yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Misalnya suami memukul istri sedang hamil atau tidak, akan berbeda ancaman hukumnya. Hukum suami memukul istri yang sedang hamil tentu saja akan lebih berat karena korbannya juga kepada anak. 

Bentuk kekerasan suami kepada istri yang dapat dijerat hukum tidak selalu melibatkan fisik. Ada bentuk lainnya yang masuk dalam kategori KDRT dan bisa mendapatkan ancaman berupa penjara maupun membayar denda. Beberapa bentuk KDRT yang dimaksud antara lain:

  1. Terbuka atau Overt

Bentuk kekerasan yang dapat diproses hukum dari suami kepada istri yang paling banyak terjadi yaitu jenis terbuka atau overt. Kekerasan ini melibatkan fisik yang bisa dilihat dengan mata kepala seperti mendorong, menendang, berkelahi, menjambak, melemparkan benda dan masih banyak lainnya.

  1. Psikis atau Covert

Bentuk kekerasan psikis atau covert cenderung tersembunyi karena luka yang ditimbulkan tidak terlihat. Ada beragam bentuk kekerasan jenis ini, seperti intimidasi, ancaman, mengeluarkan kata-kata kasar, menghina, manipulasi dan lain sebagainya.

Biasanya kekerasan psikis akan membuat kondisi psikologis korbannya menjadi terganggu. Jika terlalu lama dibiarkan akan membuat korban menjadi tidak berdaya dan kehilangan rasa percaya diri. Bukan tidak mungkin memicu upaya bunuh diri.

  1. Finansial

Suami yang memaksa istrinya untuk bekerja mencari nafkah merupakan salah satu bentuk kekerasan finansial. Padahal suaminya masih mampu untuk bekerja. Ia memaksa istrinya dengan alasan keberatan jika harus bekerja banting tulang.

Bisa juga sebaliknya, suami melarang istri untuk bekerja, padahal ia tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tidak hanya pemaksaan, bisa juga dalam bentuk eksploitasi, intimidasi, manipulasi dan lain-lain.

  1. Seksual

Tindakan untuk memuaskan keinginan berhubungan seksual baik secara verbal maupun fisik bisa dikategorikan bentuk KDRT seksual dari suami kepada istri yang bisa dijerat hukum. Contoh kasusnya adalah memaksa hubungan seksual, mencium paksa, menghina korban dan masih banyak lainnya.

  1. Penelantaran

Bentuk kekerasan dalam rumah tangga terakhir yaitu penelantaran. Suami yang sengaja tidak memberi nafkah kepada istri dan anaknya masuk dalam kategori penelantaran. Kebutuhan nafkah seperti minum, makan, tempat tinggal, pakaian dan lainnya.

Jadi, bentuk KDRT ini bermacam-macam, tidak hanya fisik tapi juga psikis, atau bisa juga gabungan dari keduanya. Setiap tindakan memiliki ancaman hukuman tersendiri bagi pelaku. Jangan pernah menganggap sepele tindakan KDRT.Bagi Anda yang mengalaminya atau mungkin melihat ada istri orang lain melakukan tindakan kekerasan dalam lingkup rumah tangga, sebaiknya segera laporkan kepada pihak berwajib. Hukum suami KDRT terhadap istri akan membantu mengatasinya.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.