Dalam hukum yang berlaku di Indonesia, seseorang yang melakukan tindak pidana namun dengan tujuan membela diri, maka dikenakan aturan hukum yang berbeda. Aturan tersebut dijelaskan dalam pasal pembelaan diri yang mana perlu Anda ketahui dalam artikel berikut ini.

Apa Itu Pembelaan Diri?

Pembelaan diri adalah hak dan kewajiban yang diberikan oleh Undang-Undang pada seseorang guna memelihara atau menjaga keselamatan hidupnya, baik keselamatan jiwa, harta benda ataupun kehormatannya.

Pada dasarnya pembelaan diri sendiri merupakan tindakan yang menjadi naluri orang lain untuk mempertahankan dirinya atau orang lain, kehormatannya, dan harta benda dari perbuatan jahat yang dilakukan orang lain yang ingin merusak atau merugikan dengan cara melawan hukum.

Akan tetapi ada beberapa kasus dalam upaya pembelaan diri yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain dalam upaya untuk membela diri. Untuk itu dibutuhkanlah batasan mengenai hal tersebut yang dijelaskan dalam pasal pembelaan diri.

Dasar Hukum Pembelaan Diri

Dasar hukum pembelaan diri, dijelaskan dalam Pasal 49 KUHPidana yang kemudian dalam pasal pembelaan diri tersebut dibedakan kembali menjadi pembelaan diri umum atau biasa dan pembelaan diri luar biasa.

Pasal pembelaan diri tersebut digunakan sebagai alasan pemaaf sehingga tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan suatu perbuatan yang melawan hukum. Pasal pembelaan diri tersebut lebih ditujukan untuk seseorang yang terpaksa melakukan tindakan pidana yang bisa dimaafkan dikarenakan terjadi pelanggaran hukum yang mendahului perbuatan tersebut.

Jenis Jenis Pembelaan Diri

1. Pembelaan diri umum

Pembelaan diri umum atau noodweer merupakan tindakan kriminal yang dilakukan seseorang untuk melakukan sesuatu pembelaan diri dari ancaman seseorang yang berhubungan dengan harta, benda ataupun kesusilaan diri sendiri atau orang lain yang dalam waktu bersamaan dan dalam keadaan yang sangat memaksa sehingga tidak ada pilihan lain selain melakukan tindakan tersebut.

Pembelaan umum ini sendiri diatur dalam pasal pembelaan diri yaitu pasal 49 KUHPidana.

2. Pembelaan diri luar biasa

Pembelaan diri luar biasa atau juga dinamakan dengan noodweer-exces merupakan pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang dilakukan karena keguncangan jiwa hebat dikarenakan serangan atau ancaman serangan tersebut, tidak dipidana.

Aturannya sendiri ada dalam pasal pembelaan diri yaitu pasal 49 ayat 2 KUHPidana.

Syarat Pembelaan Diri yang Sah

Menurut R. Soesilo ada beberapa syarat pembelaan diri, yaitu

  1. Harus ada tindakan atau serangan yang melawan hak dan juga mengancam dengan sekonyong-konyong atau pada saat itu juga.
  2. Pertahanan atau pembelaan tersebut harus dilakukan hanya pada kepentingan-kepentingan yang disebutkan dalam pasal pembelaan diri yaitu badan, barang diri sendiri, kehormatan diri sendiri atau orang lain.
  3. Perbuatan tersebut terpaksa dilakukan guna mempertahankan diri atau membela. Pertahanan atau tindakan itu dilakukan dengan amat sangat karena tidak ada jalan lain. Disini perlu ada keseimbangan tertentu antara pembelaan yang dilakukan dengan serangannya. Guna membela kepentingan yang tidak berarti seperti orang tidak boleh melukai atau membunuh orang lain.

Apakah Menyerang Kembali Orang yang Menyerang Kita Bisa Dikatakan Sebagai Pembelaan Diri?

Perlu diketahui bahwa tindakan yang dilakukan tersebut bisa dikatakan sebagai tindakan pembelaan diri apabila memang termasuk dalam 3 syarat pembelaan diri. Seperti tindakan orang lain tersebut dilakukan karena mengancam diri, harta benda atau kehormatan Anda sendiri.

Kemudian tidak ada jalan lain selain melakukan tindakan tersebut pada saat itu juga sehingga tindakan melawan dilakukan pada saat itu, maka bisa disebutkan sebagai tindakan pembelaan diri.

Batas Batas Dalam Pembelaan Diri

Dalam pembelaan diri luar biasa ada poin mengenai goncangan jiwa yang hebat. Goncangan jiwa yang hebat tersebut merupakan suatu keadaan batin seseorang yang tidak tetap yang menyebabkan perasaan takut, tidak nyaman, cemas yang amat sangat akibat terganggunya keadaan batin seseorang.

Hal tersebut yang menyebabkan batas pembelaan dilampaui. Batas-batas suatu pembelaan telah dilampaui ketika setelah pembelaan yang sudah selesai, orang tersebut masih melakukan penyerangan walaupun serangan dari penyerang sudah berakhir.

Apakah Membunuh Orang Jahat Termasuk Dalam Pembelaan Diri?

Perlu diketahui lagi bahwa tindakan pembelaan diri yang dilakukan sesuai dengan pasal pembelaan diri perlu dilihat kembali apakah ada syarat atau unsur yang menyebabkan hal tersebut bisa dikatakan sebagai pembelaan diri.

Dalam hal ini jika tindakan pembelaan diri yang dilakukan hingga membunuh orang tersebut termasuk dalam syarat atau memenuhi syarat pembelaan diri, maka bisa saja tindakan yang dilakukan termasuk dalam pembelaan diri. Namun bukan berarti semua tindakan pembelaan diri bisa dimaafkan atau tidak bisa diproses pidana.

Nantinya tetap dalam persidangan, hakim akan menentukan mengenai apakah tindakan pembelaan diri yang Anda lakukan masih bisa dimaafkan atau tidak termasuk dalam pembelaan diri sehingga perlu dikenai pasal yang sesuai.

Bukti-Bukti Terkait Pembunuhan Karena Pembelaan Diri

Aturan hukum membunuh karena membela diri tetap saja membutuhkan bukti dan sanksi dari tempat kejadian perkara. Keterangan diberikan oleh para saksi, akan sangat membantu korban untuk mendapatkan keadilan.

Bukti permulaan juga dibutuhkan untuk menunjukkan, bahwa tindakan korban memang murni merupakan bentuk pembelaan diri. Setidaknya dibutuhkan dua bukti, untuk meyakinkan pihak pengadilan, bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam kasus pembunuhan yang terjadi.

Penegak hukum memang akan menyaring secara ketat saksi dan bukti yang didapat dari penyelidikan dan penyidikan. Tanpa keduanya, korban akan sulit membuktikan dirinya sendiri bahwa tindakan tersebut diluar kendalinya.

Dalam penyelidikan untuk menemukan bukti, kebenaran materiil yaitu kebenaran sesungguhnya untuk mencari tau siapa pelaku sesungguhnya yang harus didakwa dan dituntut, pihak berwajib tentu harus bekerja semaksimal mungkin, karena hal ini menyangkut dengan keadilan seseorang.

Apakah Pelaku Bisa Menuntut Korban yang Melakukan Pembelaan Diri Diluar Batas?

Pada dasarnya Pasal 1 ayat (1) KUHP menegaskan, "Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada." Jika diartikan secara kebalikan, semua perbuatan yang ditentukan merupakan perbuatan pidana, dapat dipidana.

Sehingga, pelaku yang pada awalnya korban, dapat dituntut secara hukum. Pelaku kejahatan dapat melaporkan tindakan Anda jika yang dilakukan menyalahi syarat syarat pembelaan diri yang sah. Hukum bersifat objektif dan adil, sehingga siapa saja layak mendapatkan perlindungan hukum atas dasar sesuatu yang mungkin merugikan mereka.

Nantinya, pelaku yang melakukan pembelaan diri dapat menegaskan alasannya sebagai pembelaan diri, dan berdasarkan pasal 49 KUHP yang merupakan dasar pembenar yang menghapus pidana.

Aturan Hukum Membela Diri

1. Aturan hukum membela diri dari ancaman kekerasan seksual

Kejahatan seksual tentu saja harus dihindari dan terkadang korban akan melakukan apa saja agar bisa melindungi dirinya agar bisa selamat dari tindak kejahatan, bahkan tidak segan melakukan pembunuhan karena pembelaan diri, meskipun jelas pembunuhan dilarang.

Tetapi, jika kita melihat kasus ini secara rasional, korban kekerasan seksual tentu saja memiliki hak untuk menghindari pelaku kejahatan dengan apa saja yang dia temui. Intimidasi yang telah dilakukan jelas mempengaruhi psikis dan emosi korban hingga melakukan apa saja.

Tetapi jika tindakan pembelaan yang dilakukan tersebut sampai menghilangkan nyawa seseorang, maka hal tersebut termasuk dalma tindak kejahatan tambahan yang sudah menyalahi aturan hukum membela diri dari ancaman seksual. Korban yang menghilangkan nyawa pelaku kekerasan seksual tersebut perlu dilihat kembali mengenai tindakannya apakah termasuk dalam pembelaan diri atau tidak.

2. Aturan hukum membela diri dari ancaman pencurian

Aturan membela diri dikarenakan pencurian juga banyak dilakukan karena dalam kondisi tersebut seorang korban membela atau mempertahankan harta benda yang akan dicuri. Dalam hal ini berarti tindakan yang dilakukan adalah untuk membela diri dari harta dan kepentingannya yang sesuai dengan syarat pembelaan diri.

Namun untuk bisa dikatakan pembelaan diri sesuai dalam pasal pembelaan diri, maka perlu ada syarat yang lainnya yang dilakukan. Sehingga dalam hakikatnya tidak bisa dikatakan bahwa semua tindakan pembelaan diri yang dilakukan bisa dibebaskan begitu saja.

3. Aturan hukum membela diri dari pengancaman pembunuhan

Ancaman pembunuhan sendiri sudah diatur dalam pasal pengancaman yang mana pelaku bisa dikenai sanksi akibat hal tersebut. Namun perlu diketahui bahwa tindakan pengancaman pembunuhan tersebut tidak selalu berakhir dengan tindakan pembunuhan.

Dalam hal ini korban bisa saja melakukan pembelaan diri atas tindakan pengancaman pembunuhan tersebut. Akan tetapi perlu diketahui juga bahwa batasan atau tindakan pembelaan diri yang dilakukan dalam keadaan saat itu juga. Selain itu juga perlu memenuhi unsur-unsur pembelaan diri.

Demikian adalah artikel mengenai pasal pembelaan diri yang bisa Anda ketahui.

Konsultasikan Masalah Pembelaan Diri Melalui Justika

Pembelaan diri memang hak semua orang dan sudah diatur dalam pasal pembelaan diri. Akan tetapi bukan berarti semua tindakan pidana perlu ada pembelaan diri. Untuk itu, Anda bisa berkonsultasi dengan advokat terpercaya yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dengan seleksi yang ketat di Justika guna mendapatkan solusi atas permasalahan Anda melalui beberapa layanan berbayar berikut:

Konsultasi via Chat

Kini, konsultasi chat dengan advokat berpengalaman hanya mulai dari Rp 30.000 saja. Dengan harga tersebut Anda sudah bisa mendapatkan solusi permasalahan hukum Anda dengan cara menceritakan permasalahan yang dihadapi melalui kolom chat. Nantinya sistem akan mencari advokat guna membantu menyelesaikan permasalahan Anda.

Konsultasi via Telepon

Untuk permasalahan yang membutuhkan solusi lebih lanjut, Anda bisa memanfaatkan layanan konsultasi telepon mulai dari Rp 350.000 selama 30 menit atau Rp 560.000 selama 60 menit.

Konsultasi via Tatap Muka

Konsultasi tatap muka bisa dilakukan ketika Anda benar-benar membutuhkan saran secara langsung dari advokat terpercaya untuk kasus yang lebih rumit. Hanya dengan Rp 2.200.000 saja, Anda sudah bisa bertemu secara langsung selama 2 jam untuk bertanya lebih dalam hingga menunjukkan dokumen-dokumen yang relevan untuk membantu permasalahan Anda.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.