Beberapa contoh leveraged buyout dalam penerapannya sering dikenal memiliki sejarah buruk karena pada tahun 1980an sering sekali terjadi kebangkrutan dari perusahaan telah diakuisisi oleh perusahaan investor. 

Hasilnya banyak perusahaan target yang enggan melakukan leveraged buyout karena kesulitan menstabilkan arus kas, hal ini juga disebabkan karena pada kenyataannya rasio leverage sangat besar hampir 100 persen.

Selain itu pembayaran bunga juga sangat besar dan membuat perseroan kesulitan untuk memenuhi kewajiban dan menstabilkan arus kasnya. Leveraged buyout juga seringkali sangat rumit dan memerlukan waktu lama untuk menyelesaikannya, jelas hal tersebut membuat pelaksanaan leveraged juga mempunyai banyak risiko.

Contoh Leveraged Buyout yang Perlu Diketahui

Pada tahun 2016 perusahaan JAB Holding Company yang sering melakukan investasi pada barang-barang mewah atau perseroan kesehatan dan kopi kemudian memprakarsai terjadinya leveraged buyout terhadap Krispy Kreme Doughnuts Inc. 

JAB sudah dijadwalkan untuk membeli Krispy kreme doughnuts dengan nilai sebesar 1,5 miliar Dollar AS termasuk tambahan 350 juta pinjaman dan leverage serta kredit berputar senilai 150 juta Dollar AS diprakarsai oleh bank Investasi Barclays.

Namun saat itu Krispy Kreme ternyata mempunyai hutang pada neraca dan harus dijual sementara Barclays harus menambahkan suku bunga menjadi 0,5 persen agar transaksi menjadi lebih menarik. 

Hal tersebut jelas memberikan risiko tinggi dan hampir tidak mencapai kesepakatan dalam terjadinya leveraged buyout tersebut, namun pada akhirnya kesepakatan tetap berjalan. Selain contoh perusahaan JAB tersebut yang mempunyai banyak hambatan. 

Ada juga contoh leveraged buyout dari perusahaan Westray Capital pada tahun 1982. Pada waktu tersebut perusahaan Westray berhasil mendapatkan Gibson Greeting Cards dengan melakukan pembelian senilai 80 juta Dollar AS dibiayai dengan 1 juta Dollar AS sementara sisanya diterbitkan dalam obligasi sampah.

Menjelang satu tahun setengah kemudian Wesray kembali menjual Gibson Greeting Cards dengan nilai mencapai 220 juta Dollar AS. Dalam hal ini Wesray berhasil mendapatkan setidaknya 200 kali ekuitas dari awal investasi dilakukan pada Gibson Greeting Cards.

Contoh lain yaitu dari Hilton Hotels yang dibeli oleh Blackstone Group pada tahun 2007 dengan nilai 26 miliar dalam bentuk leveraged buyout. Kemudian Blackstone membiayai secara tunai 5.5 miliar Dollar AS dan terhutang mencapai 20.5 miliar Dollar AS.

Aturan Hukum yang Berlaku di Indonesia

Aturan hukum leveraged buyout diatur dalam hukum Indonesia dalam peraturan pemerintah dan undang-undang khusus perseroan terbatas disebutkan dalam beberapa kali pasal lengkap dengan perinciannya ayat-ayatnya.

Diantaranya seperti tertuang dalam Undang-Undang perseroan terbatas pasal 125 hingga pasal 131 dan undang-undang nomor 40 tahun 2007 mengenai perseroan terbatas. Cara melakukan leveraged buyout juga sudah diatur dalam pasal 125 undang-undang perseroan terbatas.

Bahwa cara untuk melakukan pembelian terutang ada dua cara yaitu melalui direksi atau melalui pemegang saham. Untuk kedua cara tersebut memiliki perbedaan yang cukup signifikan dan proses pembelian terutang yang paling sederhana dengan langsung melalui pemegang saham.

Sementara jenis leveraged buyout untuk perusahaan tertarget juga dibedakan menjadi tiga, diantaranya ada perusahaan premium, second tier dan trouble companies. Artinya jika ingin mendapatkan perusahaan pembelian terutang yang tepat maka harus bisa memilih perusahaan dengan potensi besar.

Seperti perusahaan yang memang sudah stabil dan berstatus premium. Atau perusahaan yang berada pada tingkat menengah seperti perusahaan yang memiliki kekuatan pertengahan, sementara jenis lainnya yaitu perusahaan yang bermasalah. 

Selain melihat tiga jenis perusahaan targetan tersebut, sebaiknya perseroan investor juga melihat dan membuat perencanaan rinci mengenai perkembangan perseroan yang akan diambil alih nantinya.

Investor harus menentukan target bagi perusahaan yang akan diambil alih atau diakuisisi agar bisa mencapai target tertentu dan memberikan motivasi agar meningkatkan kinerjanya. Dalam hal ini juga akan memberikan dampak positif bagi perusahaan yang akan diambil alih. 

Karena bisa meningkatkan kinerja dengan signifikan melihat adanya tekanan dari hutang dan manajemen baru. Perusahaan yang menjadi targetan leveraged buyout jelas mempunyai beban yang berat. 

Selain itu menanggung tanggung jawab besar agar bisa membangkitkan kembali perusahaan dari keterpurukan. Selain itu investor melihat banyaknya contoh leveraged buyout yang gagal juga harus berhati-hati dalam menentukan arah investornya.

Dokumen di atas adalah contoh. Buat perjanjian yang spesifik untuk kebutuhan bisnis Anda, lebih mudah dan murah dengan template dari advokat berpengalaman.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.