Pembelaan darurat atas nyawa, harta, dan kehormatan seseorang memang patutnya dilindungi oleh hukum dan undang-undang. Meskipun secara hukum membunuh orang jahat belum tentu menjadi hal yang dapat dibenarkan, karena diperlukan penyelidikan lebih mendalam tentang tindakan pembelaan diri tersebut.

Membunuh dapat dimaafkan jika perbuatan itu dilakukan dalam batas pembelaan diri yang diperbolehkan. Misalnya karena adanya serangan yang seketika dan tiba-tiba sehingga memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang pada akhirnya menghilangkan nyawa sang pelaku.

Hukum Membunuh Orang Jahat Secara Umum

Secara umum, pembunuhan adalah bentuk pelanggaran tindak pidana. Hukumannya diatur dalam Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman hingga maksimal lima belas tahun penjara. Pembunuhan bisa dibagi menjadi tiga dalam hukum pidana di Indonesia:

1. Pembunuhan Sengaja

Pembunuhan yang dilakukan dengan niat dan kehendak untuk membunuh. Biasanya dengan alat yang memang layak untuk melakukan pembunuhan. Pembunuhan semacam ini jelas unsur kesengajaannya.

2. Pembunuhan Tidak Sengaja

Pembunuhan yang dilakukan tanpa adanya unsur kesengajaan dan kehendak untuk membunuh. Perbuatan semacam ini bisa terjadi karena pelaku tidak mengetahui akibat perbuatannya atau gagal untuk menduga-duga akibat yang dapat terjadi karena perbuatannya. Hukum membunuh semacam ini tetap dilarang secara hukum.

3. Pembunuhan Semi-Sengaja

Pembunuhan semacam ini terjadi karena seseorang tidak berniat membunuh, melainkan hanya tindakan untuk menghukum atau semacamnya. Tetapi ternyata tindakannya menyebabkan hilangnya nyawa, sehingga terjadilah tindak pembunuhan.

Semua perbuatan pembunuhan di atas termasuk ke dalam tindakan pelanggaran pidana sehingga bisa dituntut dan dijerat hukuman di pengadilan. Hukum membunuh orang jahat secara umum adalah tidak boleh, namun terdapat beberapa pengecualian.

Hukum Membunuh Orang Jahat Dalam Islam

Dalam perspektif agama, pembunuhan merupakan sesuatu yang dilarang secara umum. Namun, bukan berarti tidak ada pengecualian. Bahkan, dalam Al-Quran diterangkan bahwa membunuh suatu nyawa tanpa sebab yang dibenarkan sama seperti membunuh seluruh umat manusia (QS: Al-Maidah: 32).

Tetapi, dalam kondisi tertentu, syariat Islam mengatur bahwa pembunuhan juga diperbolehkan dengan persyaratan yang ketat dan tidak sembarangan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahwa siapapun yang terbunuh karena membela harta, nyawa, agama, dan keluarganya adalah mati syahid.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa diperkenankan melakukan perlawanan kepada pelaku kriminal yang ingin merampas harta atau nyawa kita. Oleh sebab itu, membela diri diperkenankan. Sedangkan yang secara gamblang diperbolehkan untuk melakukan hukum membunuh orang jahat dalam Islam adalah negara (QS: Al-Maidah: 33).

Imam As-Sa’di menjelaskan bahwa pemerintah sesuai dengan dalil di atas berhak melakukan menghukum pelaku kiriminal yang melakukan kerusakan di muka bumi. Beliau menjabarkan bahwa penjahat yang mengambil nyawa orang lain, boleh dijatuhi hukuman mati oleh negara.

Hukum Membunuh Orang Jahat Menjadi Boleh Karena Hal ini

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pembunuhan secara umum dapat dipidana karena melanggar KUHP yang mengatur tentang pembunuhan. Namun, hukum membunuh orang jahat bisa dimaafkan kalau termasuk ke dalam pembelaan darurat.

Dalam Pasal 49 KUHP, disebutkan bahwa seseorang yang karena terpaksa untuk melindungi nyawa, harta, dan kehormatan dirinya maupun orang lain lalu melakukan pembelaan diri, maka tidak dapat dipidana. Syarat pembelaan darurat ini di antaranya adalah harus ada serangan secara tiba-tiba, perbuatan dilakukan karena terpaksa, dan pembelaan diri merupakan satu-satunya jalan.

Apabila kasusnya seperti itu, maka tindakan yang masih berada dalam batas pembelaan diri tersebut dimaafkan secara hukum, meskipun menyebabkan terbunuhnya penyerang. Hukum membunuh orang jahat secara sengaja memang tidak diperkenankan secara hukum, tetapi bila tindakan terpaksa seseorang untuk membela diri secara sekejap dan seketika, lalu ternyata menyebabkan pelaku terbunuh, maka hal tersebut dapat dikategorikan sebagai pembelaan diri.

Jadi, hukum membunuh orang jahat secara umum memang tidak boleh. Namun, bila hal itu terjadi secara seketika saat seseorang melakukan pembelaan diri, dapat masuk ke dalam kategori pembelaan diri yang secara hukum dimaafkan sesuai Pasal 49 KUHP.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.