Adanya pasal KDRT pemukulan, menjamin pelakunya mendapatkan hukum pidana dan melindungi korban. KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga semakin marak terjadi akhir-akhir ini, bahkan banyak yang berujung pada tindakan pembunuhan.

Berbagai alasan melatarbelakangi tindakan kekerasan ini terjadi. Mulai dari masalah keuangan atau ekonomi rumah tangga, tidak sependapat yang akhirnya memicu pertengkaran, berada di bawah alam sadar karena dalam kondisi mabuk dan masih banyak lainnya.

Kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi pada suami, istri, anak maupun orang yang tinggal di dalamnya. Tapi, yang lebih banyak terjadi adalah suami melakukan KDRT kepada istri atau anaknya. Ada beberapa pasal yang mengatur mengenai tindakan KDRT sebagai berikut.

Beberapa Pasal KDRT Pemukulan dan Hukumannya Bagi Pelaku

Bentuk kekerasan dalam rumah tangga ini beragam. Bisa dengan pukulan, tamparan, injakan, pelemparan menggunakan benda tajam dan masih banyak perilaku lainnya lebih sadis. Ketika terjadi tindakan seperti ini, hukum suami KDRT terhadap istri bisa dijadikan tameng.

Hak istri yang dipukul suami bisa menuntut perlakuannya sesuai dengan aturan pasal berlaku. Sebagai istri jangan hanya tinggal diam. Lawan dengan cara melaporkannya kepada pihak berwajib disertai bukti kuat.

Bentuk kekerasan memang bermacam-macam, salah satunya yang banyak terjadi adalah pemukulan. Pemukulan bisa menyebabkan luka ringan bahkan berat. Ada beberapa pasal mengatur mengenai KDRT dan pemukulan serta hukumannya bagi pelaku yang perlu Anda ketahui.

Salah satunya yaitu KUHP mengenai KDRT pasal 44. Pasal ini menyebutkan bahwa hukuman bagi bahwa pelaku tindakan KDRT atau pemukulan dalam rumah tangga dikenai hukuman denda maksimal 15 juta rupiah, atau penjara paling lama dalam kurun waktu lima tahun.

Berat hukuman yang dijatuhkan sesuai dengan keputusan hakim berdasarkan pertimbangan dan pengkajian. Jika tindakan kekerasan menyebabkan korban mengalami luka berat, maka ancaman hukumannya berupa penjara selama maksimal sepuluh tahun.

Atau pembayaran denda dengan nilai tidak lebih dari 30 juta rupiah. Jika kekerasan menyebabkan korban sampai kehilangan nyawa atau meninggal, maka ancaman hukumannya dalam kurun waktu maksimal lima belas tahun atau denda sejumlah 45 juta rupiah.

Sedangkan untuk kekerasan kategori ringan yang membuat korban tidak terhalang melakukan aktivitasnya, pelaku mendapatkan ancaman hukuman penjara maksimal dalam waktu empat bulan. Atau bisa juga dengan membayar denda sejumlah paling banyak 3 juta rupiah.

Beberapa Pasal KDRT Lainnya serta Hukuman untuk Para Pelaku

Tidak hanya pasal 44 saja yang mengatur mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Ada beberapa pasal lainnya yang bisa dijadikan pedoman untuk menentukan hukuman pidana bagi para pelaku. Korban tentu akan merasa lebih tenang karena ada perlindungan payung hukum.

Pasal KDRT pemukulan dan tindakan kekerasan lainnya yaitu nomor 45. Pasal ini mengatakan bahwa jika tindakan kekerasan dalam kategori psikis, maka ancaman hukumannya berupa penjara maksimal tiga tahun atau membayar denda sejumlah paling banyak 9 juta rupiah.

Tentunya akan berbeda sanksi hukuman jika kekerasan psikis pada istri hamil. Kondisi psikis pada wanita hamil rentan terhadap kesehatan janin dalam kandungan. Hukum suami memukul istri yang sedang hamil akan berbeda dengan kasus biasa.

Pasal berikutnya yaitu nomor 46. Dalam pasal ini dijelaskan bahwa jenis kekerasan seksual yang dilakukan dalam rumah tangga akan dikenai hukuman penjara dengan kurun waktu paling lama dua belas tahun. Atau membayar denda dengan jumlah maksimal 30 juta rupiah.

Pasal terakhir yang membahas tentang tindakan kekerasan dalam lingkup rumah tangga adalah nomor 47. Pasal ini membahas tentang tindakan pemaksaan terhadap orang yang ada di dalam lingkungan rumah tangga untuk melakukan hubungan seksual.

Ancaman tindakan pemaksaan ini yaitu penjara dalam kurun waktu paling lama lima belas tahun. Atau membayar denda dengan jumlah maksimal 300 juta rupiah. Jadi, bisa disimpulkan bahwa setiap pasal memberikan hukuman masing-masing kepada setiap jenis tindakan kekerasan.

Penentuan mengenai waktu penjara atau jumlah denda yang wajib dibayarkan menyesuaikan dengan kebijakan hakim. Akan ada banyak hal sebagai bahan pertimbangan sebelum memutuskan hukuman yang pantas bagi pelakunya.Bagi Anda yang mengalami tindakan kekerasan berupa pemukulan dalam rumah tangga, sebaiknya jangan dibiarkan begitu saja. Datangi pihak yang memiliki kewenangan untuk mengurusnya, agar pelaku mendapatkan hukuman setimpal sesuai pasal KDRT pemukulan.

Konsultasikan Tanpa Ragu Dengan Justika, Jika Anda Masih Bingung

Anda bisa mengkonsultasikan perihal langkah hukum jika terjadi kasus KDRT dengan mitra advokat andal dan profesional Justika.

Lawyer yang bergabung di Justika merupakan lawyer pilihan yang melalui proses rekrutmen yang cukup ketat dengan pengalaman paling sedikit, yaitu 5 tahun berkarir sebagai advokat.

Kini, konsultasi chat dengan advokat berpengalaman hanya mulai dari Rp. 30.000 saja. Dengan harga tersebut Anda sudah bisa mendapatkan solusi permasalahan hukum Anda dengan cara menceritakan permasalahan yang dihadapi melalui kolom chat. Nantinya sistem akan mencari advokat guna membantu menyelesaikan permasalahan Anda.

Untuk permasalahan yang membutuhkan solusi lebih lanjut, Anda bisa memanfaatkan layanan konsultasi telepon mulai dari Rp. 350.000 selama 30 menit atau Rp. 560.000 selama 60 menit. 

Konsultasi tatap muka bisa dilakukan ketika Anda benar-benar membutuhkan saran secara langsung dari advokat terpercaya untuk kasus yang lebih rumit. Hanya dengan Rp. 2.200.000 saja, Anda sudah bisa bertemu secara langsung selama 2 jam untuk bertanya lebih dalam hingga menunjukkan dokumen-dokumen yang relevan untuk membantu permasalahan Anda.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.