Belakangan, informasi mengenai perceraian tanpa persetujuan pasangan memang banyak dicari oleh para pasangan muda. Hal ini bisa dilihat pada zaman modern seperti sekarang, sudah banyak problematika yang terjadi bagi pasangan muda tersebut.

Salah satu bentuk fenomena mengenai pernikahan tersebut bisa dilihat pada masyarakat tanah air itu sendiri. Adapun salah salah satunya bisa dilihat dari masyarakat di Bali.

Saat ini, adanya paradigma pada masyarakat khususnya masyarakat Bali di mana menganut paham patrilineal membuat peran bagi keluarga laki-laki cenderung lebih dominan dibanding pihak perempuan.

Adanya paham patrilineal tersebut juga membuat keluarga perempuan di Bali merasa tidak berdaya dihadapan keluarga laki-laki. Dalam hal ini, masalah yang kerap terjadi yaitu pihak laki-laki sering memperlakukan istrinya secara semena-mena.

Fenomena Perceraian

Salah satu bentuk permasalahan yang terjadi pada ruang lingkup pernikahan bisa kita lihat juga dari kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Lewat fenomena tersebut, banyak suami tidak memberikan nafkah kepada istri, bahkan malah istri diminta untuk bekerja membanting tulang.

Adanya perilaku kurang menyenangkan tersebut tentu membuat istri merasa tidak tahan dan yakin untuk melangsungkan perceraian dengan suaminya. Apesnya, niat ingin melakukan perceraian tanpa diketahui suami malah hal tersebut sudah diketahui oleh suaminya.

Setelah keluarga suami mengetahui keinginan istri, suami kemudian menyembunyikan semua dokumen pernikahan. Adapun dokumen tersebut mencakup akta perkawinan, KPT, KK, bahkan sampai akta kelaihan anak-anak mereka.

Adanya tindakan untuk menyembunyikan semua dokumen pernikahan tersebut tentu ditujukan agar sang istri tidak bisa mengurus proses perceraian di pengadilan. Bukan hanya itu, pihak laki-laki juga melayangkan ancaman tidak akan menandatangani surat perceraian tersebut.

Karena contoh kasus di atas, tentu banyak istri di luar sana yang sedang merasakan permasalahan pernikahan menjadi tidak berdaya. Dalam hal ini, adakah cara mengajukan gugatan cerai tanpa sepengetahuan suami?

Secara umum, mengajukan proses gugatan memang membutuhkan dokumen pernikahan. Kebutuhan dokumen tersebut walau sifatnya administrasi juga bisa dijadikan sebagai dasar acuan. Namun apabila ada kondisi yang tidak memungkinkan, adanya gugatan perceraian juga sudah cukup.

Hukum dan Cara Mengurus Perceraian Tanpa Persetujuan Pasangan

Perlu kalian ketahui, gugatan pada proses perceraian di pengadilan sebenarnya tidak ditentukan oleh ada dan tidaknya persetujuan dari pihak lawan. Apabila kita melihat kasus tersebut, maka dalam ini pihak istri tetap dapat mengajukan gugatan cerai dengan bantuan pengacara.

Saat setelah dikirimkannya gugatan dan keluarga suami tidak mau menandatangani surat relass panggilan sidang, maka itu tidak akan menjadi halangan untuk memulai persidangan. Dalam hal ini, pihak tergugat (suami) dianggap telah mengetahui adanya gugatan sekalipun tidak menandatangani.

Apabila pihak tergugat datang untuk melakukan proses sidang dan kemudian mengatakan di depan Majelis Hakim untuk tidak sepakat untuk melangsungkan perceraian, maka Majelis Hakim akan ditunjuk sebagai mediator dalam tahapan mediasi kedua belah pihak.

Jika pihak tergugat di sini adalah istri, lantas bisakah diam-diam menggugat cerai istri? Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu bisa, adapun penjelasannya sama seperti di atas. Jadi meskipun tanpa persetujuan pasangan, perceraian tetap bisa disidangkan.

Secara umum, masa mediasi pada proses pengadilan berlangsung selama 30 hari dan masih bisa diperpanjang selama 10 hari. Majelis Hakim, di mana di sini bertugas sebagai mediator akan menanyakan apa yang menjadi masalah pada rumah tangga mereka.

Secara langsung, Majelis Hakim akan menanyakan masalah tersebut kepada penggugat maupun pihak tergugat. Kemudian, keluarga penggugat akan diberikan sebuah kesempatan oleh Mediator untuk membuat resume mediasi.

Isi dari resume mediasi ini tentu memuat apa keinginan dari penggugat di mana memungkinkan terjadinya perdamaian untuk berumah tangga kembali. Lepas dari itu, pihak tergugat juga akan ditanyakan oleh Mediator apakah masih bersedia untuk memenuhi keinginan pihak penggugat.

Apabila setelah proses mediasi terjadi deadlock, yaitu saat pihak penggugat masih bersikeras ingin tetap melakukan gugatan, sedangkan keluarga tergugat juga bersikukuh untuk mempertahankan rumah tangganya, maka bisa dikatakan proses mediasi gagal.Apabila terjadi kegagalan dalam proses mediasi, maka persidangan bisa mulai dengan agenda selanjutnya. Adapun agenda selanjutnya adalah pembacaan gugatan. Berikut adalah informasi mengenai perceraian tanpa persetujuan pasangan.


Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah.